Yusufdan Saudara-Saudaranya. kepada anak-anak kecil dengan cara sederhana. Seri ini juga membantu mereka mengembangkan kemampuan afektif, kognitif dan motorik halus. Tiap cerita disampaikan dalam kalimat-kalimat pendek. Gambarnya pun besar-besar. Ada yang sudah berwarna, ada pula yang masih harus diwarnai. Seri Lilin Kecil dirancang agar anak DanYusuf berkata kepada saudara-saudaranya: "Akulah Yusuf! Masih hidupkah bapa?" Tetapi saudara-saudaranya tidak dapat menjawabnya, sebab mereka takut dan gemetar menghadapi dia. AYT (2018) Setelah itu, Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya, "Akulah Yusuf! Apakah ayahku masih hidup?" Namun, saudara-saudaranya tidak dapat menjawabnya Unduhilustrasi vektor Yusuf Dijual Ke Perbudakan Oleh Saudarasaudaranya Alkitab Kejadian Perjanjian Lama Gambar Antik Vintage ini sekarang. Dan cari lebih banyak seni vektor bebas royalti yang menampilkan Mesir grafik yang tersedia untuk diunduh dengan cepat dan mudah di perpustakaan iStock. Yusufadalah seorang pribadi yang menjadi contoh teladan di dalam memberikan Pengampunan yang sepenuhnya. Yusuf adalah korban iri hati dan kebencian. Saudara saudaranya yang dengan sadis menganiaya dan menjualnya kepada orang asing yaitu orang Mesir. Dalam kejadian 45:1-28, kedudukan Yusuf sudah sangat tinggi, ia sudah menjadi perdana menteri NabiYusuf memberikan makanan sebanyak barang penukar mereka. Setelah itu beliau meminta mereka untuk membawa saudaranya (Bunyamin) ketika datang kembali untuk mendapatkan makanan. Allah SWT menjelaskan hal itu sebagai berikut: Dan saudara-saudara Yusuf datang (ke Mesir) lalu mereka masuk ke (tempat)nya. Yusufkini menjadi orang yang berkuasa memerintah, Yusuf telah menjadi seperti apa yang saudara-saudaranya takutkan bahwa hal itu akan terjadi (Kejadian 37:8,10-11). Dan karakter Yusuf ini begitu bagus dan dicatat hampir tidak pernah melakukan kesalahan, kecuali dari sikapnya yang "naif" di hadapan saudara-saudaranya. Dimana dia kala itu tidak Keesokanharinya, nabi Yusuf menceritakan mimpi itu dan menanyakan maksudnya kepada nabi Yakub as -ayahnya. Nabi Yakub mengatakan bahwa mimpi tersebut merupakan pertanda bahwa Yusuf akan diangkat menjadi Nabi. Dalam kisah nabi yusuf as, diketahui bahwa nabi Yakub melarang Yusuf untuk mengatakan mimpi tersebut kepada saudara-saudaranya yang lain. YUSUFtidak dapat menguasai perasaannya lebih lama lagi. Ia memerintahkan semua pelayannya meninggalkan ruangan. Ketika ia sendirian dengan saudara-saudaranya, Yusuf mulai menangis. Kita dapat membayangkan betapa heran saudara-saudaranya, karena mereka tidak tahu mengapa ia menangis. Akhirnya Yusuf berkata, 'Saya adalah Yusuf. Yusufdiberikan jubah yang maha indah dari ayahnya, Yakub dan menyebabkan iri hati saudara-saudaranya. Yusuf, tatkala berumur 17 tahun-jadi masih muda-biasa menggembalakan kambing domba, bersama-sama dengan saudara-saudaranya, anak-anak Bilha dan Zilpa, kedua isteri ayahnya. Dan Yusuf menyampaikan kepada ayahnya kabar tentang kejahatan BagikanDidalam lembaran-lembaran perjanjian lama disebutkan bahwa Nabi Yusuf menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya. Tidak terdapat isyarat Al-Qur'an yang menunjukkan hal itu. Kalau memang demikian, niscaya saudara-saudaranya akan menceritakan hal itu dan kedengkian mereka akan semakin bertambah sehingga mereka segera membunuhnya. Yusuf percaya dengan pesan ayahnya dan ia tidak q3Q7nC. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Bencana paceklik yang telah Yusuf terangkan sebagai hasil takwil dari mimpi Sang Raja benar-benar terjadi kini. Hampir seluruh lahan tanam di wilayah Kerajaan Mesir saat ini telah mengalami kekeringan. Sementara itu, sebagian besar cadangan makanan yang dimiliki oleh penduduk juga semakin menipis. Dan kondisi yang demikian juga tak luput terjadi pada keluarga Ya'qub yang merupakan bagian dari penduduk negeri itu. Mendapati cadangan makanan mereka yang semakin menipis, maka keluarga Ya'qub pun berencana untuk pergi ke Ibukota Mesir demi memperoleh bahan makanan dari lumbung pangan yang berada di sana. Untuk memulai rencana mereka ini, maka para putra Ya'qub telah menyusun rencana, yakni menyiapkan beberapa barang berharga yang mereka miliki sebagai barang yang akan ditukar barter dengan bahan makanan tersebut. Usai menyiapkan barang yang akan ditukar itu, para putra Ya'qub tak lupa berpamitan pada bapaknya sebelum mereka pergi menuju ibukota bersama dengan kafilah yang lain. Sesampainya di ibukota, harapan mereka untuk memperoleh bahan makanan ini kian membuncah begitu mereka mendengar kabar dari para penduduk yang berada di sana. Mereka menjadi merasa begitu yakin akan memperoleh apa yang mereka butuhkan itu dalam waktu yang tak berapa lama lagi. Di wilayah itu, mereka begitu mudahnya memperoleh kabar yang sahih dari para penduduk mengenai keberadaan lumbung pangan, tempat dimana mereka yang telah kehabisan bahan makanan itu akan menaruh harapan. Dan begitu mereka terus diarahkan hingga sampai di lokasi lumbung pangan itu, mereka rupanya juga memperoleh sebaik-baiknya pelayanan dari para petugas yang berada di sana. Tampak perhatian mereka begitu total saat melayani para penduduk yang sedang mencari bahan pangan. Diantara mereka tampak beberapa petugas yang tengah mendaftar nama-nama para penukar bahan pangan, daerah asal mereka, anggota keluarga, hingga jumlah yang mereka tukar. Pada kesempatan itu, mereka juga memberi pemahaman kepada penduduk itu mengenai cara untuk menghemat penggunaan bahan makanan, sehingga takkan ada yang terbuang sia-sia kelak. Seluruh aktivitas yang dilakukan oleh para petugas ini tak luput dari pengawasan Yusuf, sehingga begitu jelas dalam pengetahuannya seluruh kabar tentang kinerja mereka maupun keadaan para pihak yang mereka layani. Tak terlewatkan juga dalam pengetahuannya itu kelompok putera Ya'qub yang saat itu sedang mencari bahan makanan di sana. Begitu Yusuf mendengar kabar tentang keberadaan saudara-saudaranya yang telah memasuki kota dari salah seorang petugas, ia pun segera mendatangi dan memperhatikan dengan seksama seluruh perilaku mereka, tanpa sepengetahuan mereka, siapa jati dirinya yang sebenarnya. 1 2 3 Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya YUSUF menatap ke arah timur dengan rasa rindu, berharap untuk bisa kabur dari rombongan saudagar yang membawanya. Rumahnya di Hebron tidak terlalu jauh dari sana, kira-kira di balik bukit-bukit itu. Bapaknya, Yakub, sudah akan beristirahat malam itu tanpa sedikit pun tahu apa yang telah menimpa putra kesayangannya. Tapi, Yusuf tidak bisa memberi tahu bapaknya apa pun yang dialaminya saat itu; dia hanya tahu bahwa mungkin dia tidak akan pernah bisa melihat wajah bapaknya tercinta yang sudah tua. Para saudagar itu terus mengawasinya sambil menuntun unta mereka menyusuri jalan yang sering dilewati menuju selatan. Sekarang, Yusuf menjadi milik mereka, dan mereka tidak akan membiarkannya lepas dari pandangan mereka. Bagi mereka, anak ini sama berharganya dengan getah wangi dan minyak, yaitu barang dagangan bernilai tinggi yang akan menghasilkan keuntungan besar di negeri Mesir yang jauh. Saat itu, usia Yusuf tidak lebih dari 17 tahun. Bayangkan dia menoleh ke langit sebelah barat, saat matahari tenggelam di Laut Besar, sambil menelusuri kembali bagaimana dunianya sampai ikut tenggelam. Sulit dipercaya bahwa saudara-saudaranya sendiri nyaris membunuhnya dan akhirnya menjualnya sebagai budak. Yusuf pasti sulit menahan air matanya. Dia tidak bisa menebak seperti apa masa depannya kelak. Sekalipun kehilangan kebebasannya, Yusuf tidak kehilangan imannya Bagaimana sampai Yusuf bisa terjebak dalam situasi yang malang ini? Dan, apa yang bisa kita pelajari dari iman seorang pemuda yang dijahati dan dibuang oleh keluarganya sendiri? KELUARGA YANG PENUH GEJOLAK Yusuf berasal dari keluarga besar, namun keluarganya tidak bahagia dan tidak rukun. Gambaran Alkitab tentang keluarga Yakub menjadi bukti nyata dari dampak buruk poligami. Kebiasaan berpoligami sudah berurat berakar dan dibiarkan Allah terjadi di antara umat-Nya sampai Putra-Nya memulihkan standar monogami seperti semula. Matius 194-6 Yakub mempunyai paling tidak 14 anak dari empat wanita, yaitu dari dua istrinya, Lea dan Rakhel, dan dari hamba perempuan mereka, Zilpa dan Bilha. Sejak awal, Yakub jatuh cinta kepada Rakhel yang cantik. Dia tidak pernah merasakan hal yang sama terhadap Lea, kakak perempuan Rakhel yang dinikahinya karena ia tertipu. Persaingan yang sengit kerap terjadi di antara kedua wanita itu, dan perasaan iri pun menular di antara anak-anak dalam keluarga itu.—Kejadian 2916-35; 301, 8, 19, 20; 3735. Rakhel mandul untuk waktu yang cukup lama, dan akhirnya ketika ia melahirkan Yusuf, Yakub memperlakukan putra masa tuanya ini dengan istimewa. Misalnya, suatu waktu keluarganya melakukan perjalanan untuk menemui Esau, saudara Yakub yang pernah ingin membunuhnya. Yakub memastikan agar Rakhel dan Yusuf kecil berada di posisi yang paling aman, yaitu paling belakang dalam rombongan rumah tangganya. Hari yang menegangkan itu pasti meninggalkan kesan yang kuat dalam diri Yusuf. Pagi itu, dia terheran-heran melihat bapaknya yang sudah tua namun masih kuat itu sekarang berjalan dengan terpincang-pincang. Bayangkan perasaannya saat itu. Dia pasti sangat kagum saat tahu alasannya Kemarin malam, bapaknya bergulat dengan malaikat yang kuat! Untuk apa? Yakub ingin mendapat berkat dari Allah Yehuwa. Sebagai upah, namanya diganti menjadi Israel. Suatu bangsa akan menyandang namanya! Kejadian 3222-31 Belakangan, Yusuf tahu bahwa putra-putra Israel menjadi bapak dari tiap suku bangsa itu! Lalu, Yusuf sendiri mengalami hal yang memilukan saat ia pada usia sangat muda ditinggal orang yang paling ia sayangi. Ibunya meninggal sewaktu melahirkan adiknya, Benyamin. Bapaknya sangat berduka. Bayangkan Yakub menyeka air mata Yusuf dengan lembut, menghiburnya dengan menceritakan harapan yang juga telah menghibur Abraham, kakek Yakub. Pasti Yusuf sangat terharu karena tahu bahwa suatu saat Yehuwa akan menghidupkan kembali ibunya! Mungkin Yusuf jadi semakin mengasihi ”Allah orang hidup” yang murah hati. Lukas 2038; Ibrani 1117-19 Setelah Yakub kehilangan istrinya, dua putra yang diperolehnya dari Rakhel selalu mendapat kasih sayang yang lebih besar lagi darinya.—Kejadian 3518-20; 373; 4427-29. Banyak anak biasanya menjadi manja kalau diperlakukan istimewa; tapi Yusuf belajar dari sifat-sifat baik orang tuanya. Imannya semakin kuat, demikian pula kepekaannya akan apa yang benar dan salah. Sewaktu menginjak usia 17 tahun, dia bekerja sebagai gembala. Ketika bekerja bersama saudara-saudaranya, dia melihat mereka berbuat salah. Apakah terpikir olehnya untuk merahasiakan hal itu agar ia disukai mereka? Apa pun yang ia pikirkan, ia tetap melakukan apa yang benar. Dia melaporkan perbuatan mereka kepada bapaknya. Kejadian 372 Mungkin tindakan berani itu meyakinkan Yakub bahwa putra yang ia kasihi ini memang dapat diandalkan. Benar-benar teladan yang bagus untuk direnungkan kaum muda Kristen! Ketika tergoda untuk menutupi dosa serius seseorang, yang bisa jadi adalah saudara atau teman kita, langkah yang bijak adalah meniru Yusuf dan memberi tahu orang yang bisa membantu si pelaku kesalahan.—Imamat 51. Kita juga bisa menarik pelajaran dari kehidupan keluarga Yusuf. Di kalangan orang Kristen sejati dewasa ini tidak ada lagi poligami. Tapi, di antara mereka ada keluarga-keluarga tiri, yaitu orang tua tiri, anak tiri, dan saudara tiri. Semua bisa belajar dari keluarga Yakub bahwa perlakuan istimewa dan sikap berat sebelah akan melemahkan kekompakan keluarga. Orang tua yang bijak dari sebuah keluarga tiri akan berupaya sebaik-baiknya untuk meyakinkan anak sendiri dan anak tirinya bahwa setiap anak dicintai dan memiliki karunia yang unik dan bisa turut menyumbang kebahagiaan dalam keluarga.—Roma 211. RASA IRI MULAI TUMBUH Yakub lebih menyayangi Yusuf karena putranya ini setia dan bertindak benar Mungkin karena Yusuf berani membela apa yang benar, Yakub memberinya hadiah sebagai penghargaan. Dia membuatkan putranya pakaian yang sangat bagus. Kejadian 373 Meski kadang digambarkan sebagai mantel yang bergaris-garis atau berwarna-warni, kemungkinan besar ini adalah jubah panjang yang indah, menutupi pergelangan tangan dan kaki. Mungkin pakaian seperti ini biasanya dikenakan seorang bangsawan atau pangeran. Yakub tentu bermaksud baik, dan Yusuf pasti tersentuh karena bapaknya begitu menghargai dan menyayanginya. Tapi, gara-gara pakaian itu, ia mendapat segudang masalah. Ingatlah, anak itu bekerja sebagai gembala yang harus melakukan pekerjaan kasar. Bayangkan pemuda ini mengenakan pakaiannya yang mewah sambil melangkahi rumput-rumput yang panjang, memanjat tebing batu, atau berupaya membebaskan domba yang terjebak di semak berduri. Tapi yang lebih parah lagi, setelah mendapat hadiah istimewa ini, apa dampaknya terhadap hubungan Yusuf dengan saudara-saudaranya? Alkitab menjawab, ”Ketika saudara-saudaranya melihat bahwa bapak mereka lebih mengasihi dia daripada semua saudaranya, mereka mulai membenci dia, dan mereka tidak dapat berbicara dengan baik-baik kepadanya.” * Kejadian 374 Rasa iri mereka bisa dimaklumi, tapi saudara-saudara Yusuf mestinya tidak menuruti perasaan yang berbahaya itu. Amsal 1430; 274 Apakah Anda pernah merasa iri ketika orang lain mendapat perhatian atau kehormatan yang Anda idamkan? Ingatlah saudara-saudara Yusuf. Akibat iri hati, mereka melakukan perbuatan yang belakangan sangat mereka sesali. Contoh mereka mengingatkan orang Kristen bahwa jauh lebih bijaksana untuk ikut ’bersukacita bersama orang yang bersukacita’.—Roma 1215. Yusuf pasti bisa merasa bahwa saudara-saudaranya sangat membencinya. Jadi, apakah dia menyembunyikan jubahnya yang indah ketika sedang bersama mereka? Mungkin keinginan itu tebersit di hatinya. Namun, ingatlah bahwa Yakub ingin jubahnya itu menjadi tanda perkenan dan kasihnya kepada Yusuf. Yusuf tidak ingin mengecewakan bapaknya, jadi apa pun kondisinya dia tetap mengenakannya. Teladannya berguna bagi kita. Meski Bapak surgawi kita tidak pernah berat sebelah, Ia memang kadang secara khusus memperhatikan dan memperkenan hamba-hamba-Nya yang loyal. Ia juga meminta mereka untuk berbeda dari dunia yang bejat dan amoral ini. Seperti jubah Yusuf yang khas itu, tingkah laku orang Kristen sejati membuat mereka berbeda dari orang-orang di sekeliling mereka. Kadang ini mengundang rasa iri dan kebencian besar. 1 Petrus 44 Jadi, apakah seorang Kristen perlu menyembunyikan identitasnya sebagai hamba Allah? Tidak, sama seperti Yusuf yang tidak perlu menyembunyikan jubahnya.—Lukas 1133. YUSUF BERMIMPI Tak lama kemudian, Yusuf mendapat dua mimpi yang luar biasa. Dalam mimpi yang pertama, Yusuf melihat dirinya dan saudara-saudaranya mengikat batang biji-bijian. Lalu, ikatan biji-bijian milik saudara-saudaranya mengelilingi dan membungkuk kepada ikatan biji-bijian milik Yusuf yang berdiri tegak. Dalam mimpi yang kedua, matahari, bulan, dan 11 bintang membungkuk kepada Yusuf. Kejadian 376, 7, 9 Setelah mendapat mimpi yang aneh dan terasa nyata ini, apa yang harus Yusuf lakukan? Mimpi-mimpi itu berasal dari Allah Yehuwa. Ini mengandung nubuat, dan Allah ingin agar Yusuf menyampaikan pesan di balik mimpi itu. Bisa dikatakan, Yusuf melakukan apa yang belakangan dilakukan para nabi ketika mereka menyampaikan berita dan penghakiman dari Allah kepada umat-Nya yang tidak taat. Yusuf dengan hati-hati mengatakan kepada saudara-saudaranya, ”Dengarkanlah kiranya mimpi yang kudapat ini.” Saudara-saudaranya mengerti maksud mimpi itu, dan mereka sangat tidak suka. Mereka menjawab, ’Apakah engkau pasti akan menjadi raja dan berkuasa atas kami?’ Kisahnya berlanjut, ”Maka mereka mendapat alasan baru untuk membenci dia karena mimpinya dan karena perkataannya.” Ketika Yusuf menceritakan mimpi kedua kepada bapaknya dan saudara-saudaranya, tanggapannya tidak lebih baik. Kita membaca, ”Bapaknya menghardik dia serta mengatakan kepadanya, ’Apa artinya mimpi yang kaudapat itu? Apakah aku dan juga ibumu dan saudara-saudaramu pasti akan datang dan membungkuk kepadamu dengan muka ke tanah?’” Namun, hal ini terus mengusik pikiran Yakub. Apakah Yehuwa mungkin berbicara melalui anak ini?—Kejadian 376, 8, 10, 11. Yusuf bukanlah hamba Yehuwa yang pertama ataupun terakhir yang diminta untuk menyampaikan berita nubuat yang ternyata tidak disukai dan bahkan memicu penganiayaan. Yesus adalah contoh terbaik, dan dia mengatakan kepada para pengikutnya, ”Jika mereka telah menganiaya aku, mereka akan menganiaya kamu juga.” Yohanes 1520 Orang Kristen dari segala usia bisa mendapat banyak pelajaran dari iman dan keberanian Yusuf muda. KEBENCIAN MEMUNCAK Tidak lama setelahnya, Yakub meminta Yusuf melakukan perjalanan. Saudara-saudaranya sedang menggembalakan ternak mereka di daerah utara dekat Syikhem, di mana mereka belum lama ini menimbulkan masalah besar. Wajarlah jika Yakub mengkhawatirkan putra-putranya. Jadi, dia meminta Yusuf untuk melihat keadaan mereka. Bisakah Anda bayangkan bagaimana perasaan Yusuf? Dia tahu kalau saudara-saudaranya sekarang lebih membencinya lagi! Pasti mereka tidak suka melihatnya datang karena disuruh bapak mereka. Walaupun demikian, Yusuf dengan patuh tetap berangkat.—Kejadian 3425-30; 3712-14. Perjalanannya cukup jauh, mungkin empat sampai lima hari berjalan kaki. Syikhem terletak sekitar 80 kilometer ke sebelah utara Hebron. Tapi saat Yusuf tiba di Syikhem, ternyata saudara-saudaranya sudah pergi ke Dotan, yang terletak sejauh 22 kilometer lagi ke arah utara. Sewaktu Yusuf hampir sampai di Dotan, saudara-saudaranya melihatnya dari kejauhan. Kebencian mereka pun langsung memuncak. Menurut kisah itu, ”Berkatalah mereka kepada satu sama lain, ’Lihat! Si tukang mimpi datang. Sekarang, ayo kita bunuh dia dan kita lemparkan dia ke salah satu lubang air; lalu kita katakan bahwa seekor binatang buas telah melahap dia. Dan, mari kita lihat bagaimana jadinya mimpi-mimpinya itu.’” Namun, Ruben membujuk saudara-saudaranya agar melemparkan Yusuf hidup-hidup ke dalam sebuah lubang, karena dia berencana untuk menyelamatkan anak itu nanti.—Kejadian 3719-22. Tanpa curiga sedikit pun, Yusuf mendekati mereka, berharap pertemuan mereka akan baik-baik saja. Tapi, saudara-saudaranya menyerangnya! Mereka dengan kasar melucuti jubahnya, menyeretnya ke sumur yang sudah kering, dan melemparkan dia ke dalamnya. Yusuf pun jatuh sampai ke dasarnya! Setelah rasa kagetnya hilang, dia berjuang untuk berdiri, tapi dia tidak pernah bisa memanjat keluar dari sumur itu. Dia hanya bisa melihat langit dari lubang sumur seraya suara saudara-saudaranya makin mengecil. Dia berteriak kepada mereka, dan memohon, tapi sama sekali tidak digubris. Tanpa memedulikannya, mereka makan tidak jauh dari sana. Sewaktu Ruben tidak ada, mereka lagi-lagi berencana untuk membunuh anak itu, tapi Yehuda membujuk mereka untuk menjualnya saja kepada para saudagar yang lewat. Dotan terletak dekat jalur perdagangan menuju Mesir, dan tidak lama kemudian lewatlah rombongan saudagar Ismael dan Midian. Sebelum Ruben kembali, mereka sudah melaksanakan rencana mereka. Mereka menjual saudara mereka sebagai budak seharga 20 syekel. *—Kejadian 3723-28; 4221. Yusuf membela apa yang benar, namun saudara-saudaranya membencinya Sekarang, mari kita kembali ke awal cerita. Sewaktu Yusuf digiring ke arah selatan menuju Mesir, kelihatannya dia sudah kehilangan segalanya. Dia dibuang! Selama bertahun-tahun, dia tidak tahu apa-apa tentang keluarganya tentang penyesalan Ruben saat kembali dan ternyata dirinya sudah tidak ada; tentang Yakub yang ditipu sehingga sangat berduka karena benar-benar mengira putra yang disayanginya mati; tentang kakeknya, Ishak, yang semakin tua; dan tentang adiknya tersayang, Benyamin, yang sangat ia rindukan. Tapi, apakah Yusuf memang sudah tidak punya apa-apa lagi?—Kejadian 3729-35. Ada satu hal yang tak bisa diambil saudara-saudara Yusuf darinya, yaitu imannya. Dia tahu banyak hal tentang Allahnya, Yehuwa, dan tidak ada yang bisa merampas itu darinya. Ia tetap beriman meski tersingkir dari kampung halamannya, menderita selama ditawan dalam perjalanan panjang ke Mesir, dan bahkan terhina karena dijual sebagai budak kepada seorang Mesir yang kaya bernama Potifar. Kejadian 3736 Malah, semua penderitaannya makin memperkuat iman dan tekadnya untuk tetap dekat dengan Allahnya. Di artikel berikutnya, kita akan belajar bagaimana iman itu membuat Yusuf semakin berguna bagi Allahnya, Yehuwa, dan juga bagi keluarganya yang tertimpa musibah. Ya, meniru iman Yusuf sungguh bijaksana! Komik Alkitab YUSUF DAN SAUDARA-SAUDARANYA Kitab Kejadian pasal 37 ayat 1 sampai 36 Di Kanaan, bapak Yakub punya 12 anak laki-laki. Anaknya yang ke-11 bernama Yusuf Yusuf berumur 17 tahun, Yusuf mempunyai ibu bernama Rahel. Bapak Yakub lebih sayang kepada Yusuf, karena itu bapak Yakub memberi Yusuf sebuah jubah maha indah. Tetapi, saudara-saudara Yusuf merasa iri hati dan benci kepada Yusuf. Yusuf bermimpi berkas-berkas gandum saudaranya mengelilingi dan sujud menyembah berkas Yusuf. Yusuf juga bermimpi tentang matahari, bulan, dan 11 bintang sujud menyembah kepada Yusuf. Suatu hari, bapak Yakub menyuruh Yusuf untuk melihat keadaan saudara-saudaranya. Lalu Yusuf bertemu saudara-saudaranya sedang menggembalakan kambing domba di Dotan. Tiba-tiba saudara-saudara Yusuf yang marah itu mengambil jubah maha indah dari Yusuf. Dan melemparkan Yusuf ke dalam sumur yang kering. Agar perbuatan mereka tidak diketahui, jubah Yusuf dicelup darah kambing. Mereka mengatakan Yusuf mati dimakan binatang buas, lalu bapak Yakub menangis. Saudara-saudara Yusuf menjual Yusuf kepada pedagang Midian sebagai budak. Pedagang Midian itu menjual Yusuf kepada POTIFAR, yaitu kepala pengawal raja Firaun di Mesir. Ayat hafalan Kasihilah seorang akan yang lain Kitab Yohanes 15 17b